"Dan akhirnya, semua orang akan menuju Allah setelah matinya. Namun, berbahagialah orang yang telah menuju Allah sejak masih dalam hidupnya."
— (Sayyid Quthb dalam Ma’alim fith Thariq)

ustadzfelixsiauw:

bagi setiap pencari ilmu, ada akhlak yang harus terjaga | bagi setiap pengais kebaikan, santun harus tetap ada

dalam setiap usaha mencari ilmu | sabar itu mendahului segala ilmu

ilmu takkan berarti tanpa adab | dan adab datangnya dari iman

maka tidak pernah ada bagi yang berilmu | berkata…

Ada jiwa yang terkadang ingin melebur dengan sekitar.
Menjadi angin yang bebas bergerak kemana saja, dan yang paling penting : tidak terlihat.

Kadang ingin benar-benar diam dan menjadi pengamat setia dari kejadian2 dunia, tanpa terlihat.

Awalnya kukira itu menyenangkan. Tapi lama-lama, sebagai manusia yang memiliki fitrah untuk berjamaah, aku rasa aku tak akan sanggup sendiri.
Hormon-hormon yang kadang membuatku merasa nyaman sendiri dengan pikiranku pun kurasa tidak akan dapat membantuku untuk tidak tersiksa dalam kesendirian, atau kesepian.
Dan tentang pengamat dalam diam, ayolah. Fitrah manusia itu bergerak dan berubah. Aku tak akan mampu diam tanpa merasa tidak tersiksa.

Sampai pada titik dimana aku paham bahwa manusia akan selalu dipaksa. Dipaksa untuk menuju fitrah. Dipaksa untuk bergerak memenuhi amanah khalifah, sebagai wakil Tuhan di dunia.

Dan paksaan itu pun bukan sesuatu yang tidak bisa di tolak. Bisa, sangat bisa. Tapi, apakah kau jiwa sanggup menanggung konsekuensinya?

(Source: nerdtoyota)

erstudio:

From the book: Nulis Itu “Dipraktekin” by Tim Wesfix. What a cool quote!

maslilo:

sejatinya dapat tulisan ini dari mbakbro mh  dan kali ini diwariskan ke adik tingkat. selalu bisa jadi pemantik hehe.

Hem, baru beberapa bulan kemarin berdamai lagi sama kata-kata ini, mengubur dengan sadar mimpi tempo doeloe. 

Lanjutkan bro :D