Masalah hati. 

Tak tau berapa kali sudah diuji masalah ini :)

Tapi kembali lagi, harus dilewati.

Meskipun saya perempuan—dimana katanya banyak menggunakan perasaan daripada logika— saya mulai belajar untuk menggunakan logika. Logika dan hati. Bukan hati dan perasaan. 

Hem. Dari pengalaman, ceileh, ketika banyak menggunakan hati dan perasaan, seringnya membuat buta. Buta kalau rekasi hormonal yang sedang dirasakan itu sebenernya…..non sense. Nah, sekarang kesannya jadi ekstrem hahaha.

Bukan. Gini loh, coba jujur deh. Itu bayangan romantis, keinginan romantis, dan segala yang berbau romantis itu sebenernya cuma terkaan otak kita aja kan? Ditambah bumbu-bumbu dari hormon yang kalo ga dikontrol…..voila! Selamat terjebak dalam drama picisan yang sebernya kita ciptakan sendiri. Kita ada-adakan. 

Lalu—-ini rada ganyambung—-, kenapa hati kita seakan memilih seseorang. Atau, tertarik pada seseorang. Yah, namanya juga manusia, punya keinginan. Tapi muslim beda. Perkara siapa yang terpilih itu bukan urusan kita. Okei, kita emang berhak memilih, tapi kita ga berhak memaksakan pilihan. Ga berhak menentukan akhir. Dan pada akhirnya, yang terpilih pun bukan untuk memenuhi keinginan nafsu akan bayangan romantisme yang kita ciptakan. Jauuuuh. Dia cuma partner kita. Partner kita berjalan di JalanNya. Maka saya selalu bilang, yang penting visinya sama. Loh piye kalo teman perjalanan kita ga se visi? Dia maunya ke London, saya maunya ke surga. Nahloh hahaha. 

Jadi, yagitu. Gausah turutin kemauan nafsu untuk galau. Coba dilogikain sedikit, jangan melulu perasaan. Aih, logikanya semoga logika terbaik ya, Al-Qur’an. 

Sebisa mungkin ga menurunkan tingkat penjagaan hati dan perasaan, takutnya ada virus masuk. Katanya sih namanya virus merah jambu. Ah buat saya itu virus hitam kelabu, membutakan. 

Wallahualam. Semoga dikuatkan hei para pencari RidhaNya :D

akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” #postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponanah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :” akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” #postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponanah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :” akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” #postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponanah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :” akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” #postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponanah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :” akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” #postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponanah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :”

akatsup:

cuplikan scene dalam film “Wedding Dress” 


#postingan ini dibuat mengobati rindu pada mamah, padahal tadi baru telponan

ah mah, aku gamau ketemu di dunia aja, harus bersama-sama selamanya sampai di negeri kekal abadi :’)))

Aamiiiiiiiiin ya Rabb yang Maha membolak balikkan hati :”

"

Kefutuhan Islam itu pasti. Kefutuhan diri, itu yang belum pasti. Kemenangan itu hanya konsekuensi dari takwa. Bukan tujuan utama. Maka, bagaimana bisa menjadi bagian yang memfutuh Islam, jika diri masih belum futuh dari keinginan dan kepentingan?

Ridha Allah yang kita cari, bukan kemenangan. Bukan kekuasaan. Karena menang dan kekuasaan hanya efek samping, bukan tujuan utama.

"
— note to my self. big note.

Jatuh cinta sama khalid bin walid. Karena Allah :”
Sedih pas baca bagian khalid mau meninggal. Khalid merintih karena tidak ingin mati di kasur, seperti pengecut katanya. Dia ingin mati dalam jalan jihad yang dia cintai, perang.

Tapi apalah daya? Rasul mendoakannya agar menang dalam setiap perang, dan Allah mengabulkannya. Konsekuensi dari doa itu, ia tidak terkalahkan dalam perang apapun..

Ya Khalid, semoga Allah meridhaimu. Yang menggangkat pedang kepada kaum kafir. Memusuhi mereka yang enggan tunduk pada kebenaran. Membungkam keangkuhan prajurit sombong dengan kalimatmu, “Tidak ada yang dapat mengalahkanku jika Allah mengizinkan.”
Ah, kau tak pernah lupa bahwa Allah sajalah yang membantumu untuk menang, bukan kemampuanmu.

Khalid yang selalu berkata, “aku perang bukan untuk khalifah. Aku perang karena Allah. Aku patuh karena Allah.” Ah, keimanan yang menancap jauuuuuuuh ke dalam hati..

Dan kalau kembali merefleksikan ke dalam diri..
Allah, malu..
Apakah sudah mampu ikhlas hey diri?
Sudah mampu meninggalkan dunia hey diri?
Sudah percaya bahwa menjadi muslim itu nothing to lose? Menang atau mati syahid :’)

Semangat muslim, dengan izin Allah..
Bismillah :D

"Kami datang dengan tentara yang mencintai mati sebagai mana kalian mencintai hidup"
— Khalid bin Walid, Pedang Allah

Dia berjalan dan menemukan bahwa dia sendirian
Hanya mengangguk dan tersenyum kecil pada kawan yang kadang dia temui dalam perjalanannya
Menangis. Tapi kembali meneguhkan diri untuk terus berjalan ketika melihat ada kawannya yang kehilangan arah dan salah tujuan. 

Menangis pula ketika diri nyamungkin sudah cenderung pada arah yang salah. Namun kembali mengingat dan diingatkan akan janji diri dan janji Tuannya.

Termanggu memikirkan, bahwa perjalanan ini tak ubahnya karunia yang penuh ujian
MemanggilNya, kapan kah ini semua akan berakhir?

Kemudian dia tersadarkan bahwa perjalanan tidak boleh berakhir, tidak boleh diakhiri.
Bahwa selama kaki melangkah, ujian pun tak pernah berakhir. Tak pernah berhenti.

Bodoh jika menyangka bahwa damai itu tanpa musuh. Tanpa ujian.
Ketika norma yg berlaku hanyalah untuk menyenangkan nafsu, untuk membenarkan segalanya demi menghindarkan perselisihan. Mengambil jalan tengah demi kepuasan semua orang.
Menyampingkan kebenaran yang memang menyelisihi keinginan, demi kedamaian? Ah, bercanda. Itu hanya arti kedamaian untuk sebagian orang, kawan.

Sampai titik ini, dia hanya bisa menguatkan diri, meneguhkan diri, mendekatkan diri. Apalagi yg dia bisa?

Mendung dan mentari mungkin berteman :D